Opini Menyoal Sumber Daya Manusia PT.KAI

Saya tergelitik untuk menulis dan sedikit komentar setelah membaca sebuah artikel berita yang menyatakan kekecewaan salah satu anggota DPR terhadap sumber daya manusia PT.KAI terkait kecelakaan kereta api di Pemalang beberapa hari yang lalu. Saya tidak berkomentar masalah kecelakaannya, anggota DPR nya, ataupun kekecewaannya. Terlepas dari itu semua saya ingin menyoal tentang sumber daya manusia PT.KAI.

Beberapa bulan lalu saya sempat melihat-lihat website resmi PT.KAI dan cukup terkejut melihat komposisi sumber daya manusia yang mereka miliki sebagai berikut:

Komposisi Sumberdaya Manusia PT.KAI

“Berikut adalah profil kekuatan Sumber Daya Manusia PT Kereta Api (Persero). Berdasarkan pendidikan masih dominan pada tingkat SD, karena ciri pekerjaan di PT Kereta Api (Persero) sebagian besar memang menghendaki tingkat pendidikan tersebut.”

Jujur saja saya agak miris melihat data dan kalimat di atas. Bagaimanapun PT.KAI adalah sebuah institusi yang memegang peranan penting transportasi di Indonesia (walaupun cuma baru Jawa & sebagian Sumatera), saya kira sudah sepantasnya memiliki pasukan yang lebih baik daripada data di atas. Bagaimana PT.KAI bisa menyelenggarakan angkutan perkeretaapian dengan baik dengan sumber daya yang sangat minim? Misalnya saja 93 (0.36%) pegawai berpendidikan S2, saya kira mereka adalah jajaran komisaris dan direksi di KAI juga anak-anak perusahannya dan juga mungkin Kepala Cabang, Manajer, serta staff ahli atau pengisi jabatan struktural lainnya. Hanya 452 (1.77%) pegawai berpendidikan S1 yang mungkin mengisi peran2 sebagai manajer, kepala operasi, pengawas operasi, staff  teknis, staff kantoran dari mulai urusan kepegawaian, administrasi, keuangan, pengembangan pegawai, dll. Apakah itu cukup? Bumi dan langit rasanya membandingkan PT.KAI dengan Japan Railways yang engineer2nya saja lulusan S2/S3.

Bagaimana dengan mekanik-mekanik? Ya mungkin mereka yang berpendidikan D3 dan SLTA mendominasi bagian tersebut. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang menjadi kepala stasiun yang jumlahnya mecapai kurang lebih 570 stasiun? Lantas kalau saja 1 lokomotif itu dioperasikan oleh 1 masinis sepanjang hari sepanjang tahun, maka minimal harus ada 341 orang masinis karena ada 341 lokomotif yg beroperasi…yang ini dari tingkat pendidikan mana? Memang tingkat pendidikan bukan satu-satunya hal yang menentukan, tapi bagaimanapun itu penting.

Belum lagi jika dilihat dari segi usia, 41% pegawainya berusia > 50 tahun, berarti ga lama lagi pensiun. Sedangkan yang berusia < 30 hanya 11.6%. Bagaimana ke depannya?

Jadi jangan dululah berharap perkeretaapian kita bisa tersebar merata sampai kalimantan atau pulau-pulau lainnya. Karena rasanya dengan pasukan yang ada mempertahankan kondisi saat ini saja sulit.

Selain dari sisi jumlah, tidak kalah pentingnya juga adalah kualitas sumber daya manusianya. Menurut pendapat saya, menjadi pegawai PT.KAI bukanlah hal yang menarik bagi sarjana-sarjana muda sekarang (anggaplah ini pandangan pribadi yang juga disetujui oleh banyak teman saya). Bagaimana tidak, sepertinya PT.KAI bukanlah suatu institusi yang bisa menjanjikan sehingga sarjana-sarjana muda pencari kerja dari perguruan-perguruan tinggi lebih memilih untuk bergabung dengan perusahaan asing, BUMN populer, ataupun perusahaan swasta. Sebagai contoh saja, saya rasa 5 tahun terakhir ini dari ratusan sarjana lulusan ITB T.Sipil mungkin tidak sampai 2 tangan yang dibutuhkan untuk menghitung berapa jumlah yang bekerja di PT.KAI, apalagi teknik mesin mungkin…CMIIW. Kenapa?

Sebagian besar lulusan-lulusan baru adalah orang-orang yang gamang dan masih meraba-raba apa yang akan dilakukan selanjutnya (termasuk saya). Wajar jika yang dilihat oleh sebagian besar lulusan-lulusan baru pencari kerja dari sebuah perusahaan adalah bonafiditas perusahaan, fasilitas yang diberikan, masa depan karir, pengembangan diri…dan itu ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan asing, swasta, ataupun sebagian kecil BUMN yang menganggap pegawai sebagai aset dan investasi sementara sebagian besar kultur BUMN masih menganggap pegawai sebagai beban produksi. Apakah PT.KAI sudah mampu menawarkan itu?

1 tahun lalu saya sempat tertarik untuk mengikuti seleksi penerimaan pegawai PT.KAI sebagai staff teknis dan semacam “management trainee”-nya, tetapi langsung mundur ketika melihat persyaratannya. Persyaratannya adalah IPK>2.5 dan nilai TOEFL>400. Apakah sebegitu rendahnya ekspektasi PT.KAI terhadap calon pegawainya? Memang nilai bukan segalanya, tetapi terlalu merendahkan harga juga tidak baik. Yang terpikir pada waktu itu, pengembangan seperti apa yang akan PT.KAI berikan terhadap pegawai barunya? Apakah tidak sebaiknya syarat2 itu dihilangkan saja? Disaat perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan bibit terbaik dari perguruan tinggi, ini justru seperti tidak berniat. Sehingga lama kelamaan PT.KAI semakin ditinggalkan oleh generasi-generasi berkualitas. Mungkin trend nya sama seperti profesi PNS guru yang semakin dipandang sebelah mata oleh sebagian besar anak muda sekarang. Siapa yang ingin jadi guru? Yang perannya besar, tanggung jawabnya berat, tapi pendapatannya minim dan sampai pensiun tetap menjadi guru? Sehingga alasan yang paling masuk akal untuk memustuskan menjadi guru adalah ibadah. Niat menjadi pegawai PT.KAI adalah ibadah.

Berbicara masalah guru, saya sedikit menyinggung tentang program Indonesia Mengajar. Program tersebut mampu menarik minat ribuan anak muda untuk menjadi guru. Penggagas program ini mampu memberikan motivasi, pencitraan, penularan semangat, penguatan idealisme bagi ribuan calon pengajar muda. Saya rasa penggagas tidak memotivasi dengan materi karena toh untuk menjadi guru di program ini pada awalnya tidak diiming-imingi gaji dan fasilitas. Tapi program ini menawarkan pride, kesempatan untuk berkontribusi. Memang hanya 1 tahun dan itupun belum berjalan, bisa kita lihat nanti hasilnya berapa banyak dari para pengajar muda ini yang tetap bertahan menjadi guru atau menyumbangkan dirinya tetap berkontribusi di dunia pendidikan setelah 1 tahun.

Apakah PT.KAI bisa menawarkan kesempatan seperti itu?

Bagaimanapun hal-hal yang saya sebut di atas itu cukup menentukan. Bisa dilihat bedanya bagaimana perbedaan PT.KAI dan PT.Jakarta MRT dalam hal perekrutan tersebut..seperti guru PNS vs Indonesia Mengajar.

Apakah ini tanggung jawab PT.KAI sepenuhnya? Saya rasa tidak. Seperti yang dikatakan teman saya, bagaimanapun PT.KAI tidak akan berkembang selama kebijakan transportasi nasional cenderung menganaktirikan perkeretaapian. Ya, keberpihakan kebijakan pemerintah juga menentukan. Mungkin PT.KAI tidak berambisi untuk merekrut sarjana-sarjana muda potensial karena tahu diri tidak bisa menjanjikan apa-apa, atau mungkin tidak ada dananya, bisa banyak hal. Dan kepada sarjana-sarjana muda…sudah siapkah beribadah?? hehehe…

referensi:

http://www.kereta-api.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=9&Itemid=12

http://www.datacon.co.id/Infrastruktur-2010KeretaApi.html

-Rangga A. Sudisman-

bukan pemerhati perkeretaapian

bukan orang yang mengerti PT.KAI

hanya beropini dengan tulisan tidak terstruktur

One thought on “Opini Menyoal Sumber Daya Manusia PT.KAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s