terpancing…

Ok, kembali tergerak pengen nulis setelah baca blog seorang teman.. Teman yang menulis ini adalah teman saya sewaktu kuliah, teman main, partner tugas akhir, partner curhat, dsb.. Apa yang membuat saya dan dia berteman dekat? Karena pribadi kami berbeda, sangat berbeda, pemikiran kami seringkali bertolak belakang, seringkali berdebat untuk saling mengadu ide, beda prinsip. Kebiasaan saya adalah keanehan buatnya, dan sesuatu yg saya anggap aneh dari dia adalah kesehariannya. Tapi ada 1 hal yang mungkin sama..selera kami terhadap wanita..ga sama sih, tapi mirip. Tapi tetap cara pendekatan kami berbeda 180 derajat. As you can see..hasilnya pun berbeda (ahahahahaha).

Ada 2 poin yang dia soroti di blog nya, dan di 2 poin itu juga lah saya ingin berkomentar. Entah komentarnya ini lagi2 bertolak belakang atau tidak…semoga tidak.

Yang pertama:

Gua sependapat dengan info yang didapat dari Leni (mamahnya geng), bahwa saat ini memang ada yang namanya anggota dewan keamanan PBB. Like it or not and as inconvenient as it is mereka memang mendapat posisi itu didukung oleh peta kekuatan ekonomi mereka di dunia. Seperti organisasi manapun didunia ini, PBB sebagai organisasi membutuhkan biaya operasional untuk misi kemanusiaannya. Ada lebih dari 30 juta orang kelaparan didunia ini dan sistem perekonomian negara2 itu faktanya sampai sekarang masih menyokong supply pangan si FAO ke kantong2 kelaparan. Yes, indeed, their economic system is loosing their stability at the moment but so far their economic still influencing the economic system of half country in the world, yet the emerging economic countries such Brazil, India, even China or Rusia as an individual country, yang terkadang posisinya di dewan keamanan suka dianggap Pro Dunia masih berkembang dan blom bisa take over/ claim bahwa sistem mereka mampu support orang orang kelaparan ini bahkan mereka sendiri kadang jadi objeknya kelaparan.

Komen saya:

Kalau saya pikir, justru sistem ekonomi merekalah (negara2 adidaya) yang sedikit banyak membuat 30 juta orang kelaparan di dunia ini tetap ada. Tetap ada dalam artian; mereka tidak mati serentak akibat kelaparannya karena diberi “infaq” oleh FAO sehingga kadang-kadang masih bisa makan, tetapi mereka juga tidak bisa bangkit dari keterpurukannya. Kenapa? karena sistem ekonomi global bawaan negara2 adidaya itulah yg menutup kesempatan mereka untuk lepas dari kelaparan. Ya, yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap miskin. itu prinsipnya…bentuk kolonialisme modern.

Ilustrasinya…kenapa negara2 di Afrika yang kaya emas dan intan (intan Jar..intan) tetap menjadi negara miskin? Ya, karena emas dan berlian mereka dikuasai oleh negara2 yang mendanai UNESCO itu… Ya biar keliatan agak dermawan dan baik hati..dikasihlah sumbangan2 ala kadarnya buat si miskin yang dicuri emasnya itu. gitu kan sistem ekonominya? dan karena prakteknya mereka-mereka itu trus mereka berhak menjadi dewan keamanan PBB? Jawabannya iya… Dan kita (minimal hati kita) harus tetap menyatakan ketidaksukaan atas itu. Ya ga?

Yang kedua:

Yang kedua adalah kita ngebahas gimana hukum indonesia melihat agama di Indonesia. Gua pribadi berkesimpulan bahwa yang disebut “berketuhanan” yang dijadikan prinsip dan identitas berbangsa di Indonesia (juga tercantum di Pancasila, UUD 45 alenia 4, dan pasal 29 ayat 1) sama artinya dengan memilih konsep ketuhanan antara 5 agama yang diakui oleh negara ( 6 kalo Kong Hu Cu, maaf kalosalah nulis, dianggap agama walaupun menurut gua itu sebenernya merupakan ajaran hidup). Jadi menurut gua di Indonesia ketika kita bicara ketuhanan akan secara otomatis bicara mengenai menganut agama, g ada yang namanya agnostic walaupun pada intinya agnostic masih percaya adanya Tuhan namun tidak mempercayai konsep agama.

Saya tertarik dengan pernyataannya bahwa agama itu berbeda dengan ajaran hidup. Bedanya dimana? Bukankah inti dari agama adalah mengajarkan bagaimana kita menjalani hidup sekarang? Jadi apa yang membedakan? Kitab suci? Rasul? Tempat ibadah? Tuhan?

Terlepas apakah ajaran Konfusius itu adalah agama atau bukan…tapi menurut saya agama adalah ajaran hidup.

One thought on “terpancing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s