Bisakah kita melompat?

Kembali lagi dengan obrolan meja makan… obrolan kami yang ditulis olehnya;

Hari ini saya bercerita tentang obrolan saya dengan sensei saya di kelas bahasa Jepang kepada dia. Seperti biasa di dalam kelas bahasa Jepang, saya dan guru saya itu ngobrol banyak hal. Biasanya beliau yang memulai suatu tema, sampai sampai apa yang kita obrolkan jauh sekali dari tema awal yang diusung. Pendek cerita ketika teman saya bertanya pada sensei dimana sensei bekerja, sensei menjawabnya bukan hanya dengan jawaban panjang tapi juga melebar. Beliau bekerja di instansi pemerintah Jepang yang memiliki banyak kerjasama dengan negara lain. Salah satu tugas sensei saya adalah menjadi penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia ataupun sebaliknya untuk para trainer yang datang ke Jepang. Bidangnya bisa macam-macam, termasuk salah satunya bidang konservasi lingkungan. Dia pun bercerita sedikit tentang ke Jepang an.

Jepang memasuki masa kejayaan ekonomi dan pembangunan teknologi di era tahun 1960-1970an. Tak bisa dipungkiri lagi efek dari pembangunan nasional adalah tercemarnya lingkungan. Pada masa itulah, setelah pembangunan besar-besaran yang dilakukan pemerintah Jepang, mereka pun kembali memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan lingkungan menjadi lebih bersahabat. Udara, air, tanah, hampir semuanya tercemar oleh polutan, penduduk Jepang terpaksa menikmati “hasil” dari kemajuan pembangunan di negaranya. Namun usaha mereka tak sia-sia. Tahun 2011, tak ditemukan air sungai yang mengalir dengan membawa air berwarna hitam. Ataupun di kota Tokyo yang merupakan kota terpadat di Jepang, birunya langit masih dapat jelas dinikmati walaupun banyak gedung-gedung tinggi menjulang, serta pabrik-pabrik kokoh berdiri. Inilah kemajuan teknologi sesungguhnya.

Tapi yang menjadi pertanyaan saya dan dia adalah:

Apakah setiap negara yang ingin maju harus mengalami masa “suram” kerusakan lingkungan dahulu baru bisa menjadi negara maju?

Kalo dilihat dari sejarah-sejarah negara/kota yang mengalami kemajuan teknologi/pembangunan di daerahnya pasti pernah menghadapi masa-masa suram terhadap lingkungan. Sebut saja London, Washington, dan sekarang yang sedang terjadi adalah di negara Cina.

Apakah negara seperti Indonesia, yang sudah tahu tentang akibat buruk dari pembangunan dengan belajar dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu pernah mengalami masa buruk tersebut, bisa memiliki jalan lain untuk tidak masuk ke dalam lubang yang sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s