Restart

Sempat terpikir untuk menghapus blog ini karena saya sudah lama tidak meracau dan beberapa tulisan lama pun sudah tidak relevan dengan kondisi atau pemikiran saya sekarang. Ya bisa dibilang tulisan-tulisan lama itu atah pisan. Tapi setelah dipikir lagi, ya semua orang pernah muda dan berproses. Laman blog ini menunjukkan bagaimana saya berproses selama hampir 1 dekade. Semoga masih ada manfaat yang bisa diambil dari masa lalu.

Masa depan masih bersih, tergantung apa yang kita lakukan saat ini untuk mewarnai hari-hari. Semoga laman ini bisa menjadi manfaat, setidaknya bagi saya sendiri.

liat shunsuke

Sekarang saya mau dongeng dulu ya..

Seminggu yang lalu saya sedang bingung dengan riset saya, ada hal-hal yang bermasalah dan saya tidak tahu pemecahannya. Karena itu saya memberanikan diri untuk mengirimkan laporan dan sedikit curhat tentang masalah itu ke sensei…dengan harapan dia akan memberikan masukan, ide, ataupun koreksi karena siapa tahu memang yang saya lakukan selama ini kurang tepat. Alih-alih, memberikan solusi…sensei hanya mengucapkan terima kasih atas laporannya. Karena yang saya harapkan bukanlah “terima kasih”, saya pun kembali mengirim email. Dan kali ini tidak ada respon sama sekali….kriikk…

Malamnya saya mendapat telepon dari Matsushita-san (mahasiswa doktor-senior saya). Dia bilang kalau sensei memberinya 2 tiket nonton J-League untuk hari sabtu ini…untuk dia dan saya. OK, lupakan riset sejenak, mari menonton J-League!! Mungkin sensei ingin saya untuk tidak terlalu stress dan rehat sejenak (padahal selama ini juga tanpa progress,heu).

Sabtu siang, hujan-hujanan, kami berangkat ke National Stadium. Sampai di stadion kami terkejut..karena tiket yang kami punya adalah golden ticket. Kami sangat dekat dengan lapangan..wooooowwww… bahkan Matsushita pun belum pernah menonton sedekat ini… Lebih menyenangkan lagi karena saya bisa melihat langsung pemain sepak bola Jepang favorit saya; Shunsuke Nakamura.

Senangnya hari itu karena saya bisa merasakan atmosfer J-League, meskipun tim yang bermain adalahKashima Antlers vs  Yokohama F. Marinos, bukan Urawa Reds Diamond yang konon katanya memiliki supporter terbaik di Asia. Tidak sabar juga untuk berada diantara Reds Gang..insya Allah minggu depan,hehe.

Oiya, saya jadi ingat sejarah J-League. J-League ini baru dimulai sekitar awal 90-an. Dan boleh percaya atau tidak,  sebelum menyelenggarakan musim pretama J-League ini, katanya dulu mereka melakukan studi banding ke Indonesia untuk melihat kompetisi di Indonesia…wakwaw.. “Kenapa Indonesia ga juara-juara? Kenapa suporternya masih suka rusuh? Kenapa kesejahteraan pemain masih kurang terperhatikan?”. Tanya kenapa..jangan jawab Nurdin Halid.

Pertandingan selesai, 0-3 untuk kemenangan Yokohama, kami senang, kami pulang, kami kedinginan, kami tersadar…riset belum selesai..kembali termenung.

Bisakah kita melompat?

Kembali lagi dengan obrolan meja makan… obrolan kami yang ditulis olehnya;

Hari ini saya bercerita tentang obrolan saya dengan sensei saya di kelas bahasa Jepang kepada dia. Seperti biasa di dalam kelas bahasa Jepang, saya dan guru saya itu ngobrol banyak hal. Biasanya beliau yang memulai suatu tema, sampai sampai apa yang kita obrolkan jauh sekali dari tema awal yang diusung. Pendek cerita ketika teman saya bertanya pada sensei dimana sensei bekerja, sensei menjawabnya bukan hanya dengan jawaban panjang tapi juga melebar. Beliau bekerja di instansi pemerintah Jepang yang memiliki banyak kerjasama dengan negara lain. Salah satu tugas sensei saya adalah menjadi penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia ataupun sebaliknya untuk para trainer yang datang ke Jepang. Bidangnya bisa macam-macam, termasuk salah satunya bidang konservasi lingkungan. Dia pun bercerita sedikit tentang ke Jepang an.

Jepang memasuki masa kejayaan ekonomi dan pembangunan teknologi di era tahun 1960-1970an. Tak bisa dipungkiri lagi efek dari pembangunan nasional adalah tercemarnya lingkungan. Pada masa itulah, setelah pembangunan besar-besaran yang dilakukan pemerintah Jepang, mereka pun kembali memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan lingkungan menjadi lebih bersahabat. Udara, air, tanah, hampir semuanya tercemar oleh polutan, penduduk Jepang terpaksa menikmati “hasil” dari kemajuan pembangunan di negaranya. Namun usaha mereka tak sia-sia. Tahun 2011, tak ditemukan air sungai yang mengalir dengan membawa air berwarna hitam. Ataupun di kota Tokyo yang merupakan kota terpadat di Jepang, birunya langit masih dapat jelas dinikmati walaupun banyak gedung-gedung tinggi menjulang, serta pabrik-pabrik kokoh berdiri. Inilah kemajuan teknologi sesungguhnya.

Tapi yang menjadi pertanyaan saya dan dia adalah:

Apakah setiap negara yang ingin maju harus mengalami masa “suram” kerusakan lingkungan dahulu baru bisa menjadi negara maju?

Kalo dilihat dari sejarah-sejarah negara/kota yang mengalami kemajuan teknologi/pembangunan di daerahnya pasti pernah menghadapi masa-masa suram terhadap lingkungan. Sebut saja London, Washington, dan sekarang yang sedang terjadi adalah di negara Cina.

Apakah negara seperti Indonesia, yang sudah tahu tentang akibat buruk dari pembangunan dengan belajar dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu pernah mengalami masa buruk tersebut, bisa memiliki jalan lain untuk tidak masuk ke dalam lubang yang sama?

maaf, sedang dalam proses…

blog ini sedang tidak produktif karena sedang dalam proses upgrade dan perbaikan, dan akan segera di re-launching secepatnya setelah proses upgrade selesai. nantinya tidak akan ada yang terlalu berubah dari tampilan blog ini, hanya saja diharapkan pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam tulisan menjadi lebih baik lagi. terima kasih..

-salam-

NB: penulis sedang menyiapkan keonaran

trivia quiz!!

Perhatikan gambar di bawah ini:

Yang menjawab dengan tepat akan mendapat kesempatan liburan 2 hari 1 malam ke kantor DPR di senayan…naik kuda tentunya..hehe.

Quiz ini dibuat dengan asumsi bahwa tingkat pemahaman dan kecerdasan manusia tidak lebih baik dari pada kuda.

Tapi itu hanya “asumsi” kok, tanpa maksud merendahkan siapapun..karena saya juga manusia. Hehehe..