diam itu emas..berbicara kebenaran adalah berlian..

sebaiknya diam jika hanya sedikit tahu,,,sampai saatnya kita tahu sepenuhnya barulah boleh bicara…

masalahnya, di dunia ini tidak ada seorang manusiapun yang tahu segalanya..apakah berarti tidak perlu ada yang bicara?

bagaimana peradaban bisa terbentuk jika tidak ada komunikasi antar manusia?

lalu bagaimana keberlanjutan dakwah?

sampaikanlah walaupun hanya satu ayat…

jadi…sampaikanlah ketika memang itu benar dan berdasar, walaupun itu satu-satunya ilmu yang kamu ketahui,,,

tidak hanya secoret garis

ketika saya melihat gambar di atas, saya bilang bahwa itu hanyalah sebuah garis lurus berwarna merah di atas latar belakang putih, sangat simpel.

tapi ketika saya memperhatikan lebih dekat lagi, lebih dekat sehingga garisnya tampak lebih besar.

yang saya lihat adalah garis tersebut disusun dari banyak titik-titik kotak.

lalu saya memutuskan untuk melihatnya lebih dekat lagi….

ternyata titik-titik kotak penyusun garis terdiri dari kotak-kotak lain yang lebih kecil. dan terus seperti itu jika saya melihat lebih dekat dan memperhatikan lebih seksama lagi. entah  sampai seberapa dekat sehingga saya bisa melihat titik terkecil. entah  berapa juta, milyar, atau bahkan trilyunan titik yang terdapat pada garis sederhana itu, tergantung dari seberapa dekat kita melihatnya.

dalam penyusunannya titik-titik tidak selalu membentuk garis lurus, tetapi bisa juga menjadi lengkung tergandung bagaimana susunan titik tersebut dalam menempatkan diri. dalam hal ini, susunan titik bisa membentuk garis seperti gambar di bawah yang mencitrakan arti lebih dari sekedar garis lurus.

untuk menciptakan arti yang lain lagi, garis bisa bersatu dengan garis lain untuk membentuk sudut, bidang, gambar, bahkan mencitrakan ruang. atau kalaupun tidak bersatu, tidak beririsan, tidak berpotongan, garis bisa cukup berdampingan dengan garis lain untuk menciptakan arti yang lainnya. yang menjadi penting adalah bagaimana kita menyusun garis sehingga menghasilkan pencitraan yang harmonis.

jika titik-titik adalah ide-ide, maka saya adalah garis lurus. garis yang arahnya 1dan tetap, garis yang tidak belum berbelok untuk menciptakan pencitraan lain, dan garis yang tidak belum bertemu, beririsan, atau bergabung untuk membentuk sudut, bidang, atau bahkan ruang. ya, sesimpel itu…garis lurus.

garut boii…garut boii

Seringkali orang tertawa ketika mendengar nama daerah asal saya; GARUT. Banyak orang juga kurang percaya kalau saya berasal dari Garut. Yang muncul di pikiran sebagian orang ketika mendengat kata Garut adalah; kampungan, tidak berkembang, korup, miskin, pendidikan tertinggal, dan hal-hal negatif lain. Ya saya akui memang Garut sempat menjadi kabupaten terkorup di Jawa Barat, pembangunannya pun terasa cukup lamban.

Terlepas dari pandangan orang lain dan sisi negatif Garut, saya tetap bangga menjadi orang Garut. Saya memang tumbuh besar di Bandung, tetapi leluhur saya adalah orang Garut, tempat bermain ayah dan ibu saya adalah garut. Dan ketika ada orang yang bertanya dari mana asal saya, dengan bangga saya akan menjawab Garut, baru saya jawab Bandung kalau ada yang bertanya tempat tinggal saya. Ya, bahkan nama saya sendiri merupakan identitas yang menyatakan saya mutlak oRANG-GArut.

Sebenarnya Garut memiliki potensi lokal yang tinggi.di Garut terdapat sumber energi yang cukup potensial, keindahan alam yang menarik, tanah yang subur dengan sumber daya cukup melimpah. Tetapi memang sampai beberapa tahun lalu sumber daya manusia di Garut bisa dibilang tertinggal. Pendidikan sebagai modal utama pengembangan sumber daya manusia masih kurang diperhatikan. Tapi itu cerita lalu, sekarang Garut memiliki generasi baru yang siap mengembangkan potensi lokal dengan tetap menjaga kearifannya. Salah satunya adalah Goris Mustaqim yang baru saja menjadi British Council Climate Champions dan mengikuti forum di Copenhagen. Siapa lagi selain Goris? Hhhmmmm….siapa yah? Siapa yah orang Garut yang hebat? Siapa atuh ya? Ya mungkin sampai saat ini generasi penerus Garut yang hebat dan saya kenal baru Goris. Tapi beberapa tahun mendatang saya akan mengenalkan diri saya sebagai orang hebat Garut lainnya..hehehe…semoga. hayu ah kita berusaha!!!

maukah kamu menjadi temanku?

Seorang anak laki-laki berjalan-jalan masuk ke dalam hutan. Langkahnya melaju perlahan, antara takut dan penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan. Dia terus berjalan memasuki hutan lebih dalam lagi. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah gubuk sederhana dengan seorang kakek tua duduk di depan gubuk tersebut. Anak itu mendekat dengan langkah semakin pelan, mengumpulkan keberanian untuk mendekat… Lalu tercekat kaget ketika si Kakek memanggilnya…

Kakek    : “Kemarilah anakku..”

Bocah   : “Kamu siapa?”

Kakek    : “Bukankah seharusnya aku yang bertanya siapa kamu? Belajarlah untuk berlaku sopan nak!”

Bocah   : “Aku pangeran!! Kamu siapa?”

Kakek    : “Oohh…kalau begitu, aku hanya seorang kakek yg menumpang hidup di hutan kerajaan ayahmu. Apa yang kamu lakukan di sini nak? Apakah kamu tersesat?”

Bocah lelaki itu semakin mendekat dan akhirnya bisa melihat si kakek dengan lebih jelas.

Bocah   : ”Sepertinya kamu orang baik. Aku hanya berjalan-jalan karena aku bosan di istana. Apakah kamu memang tinggal di sini?”

Kakek    : “Ya, aku tinggal disini.”

Bocah   : “Kamu terlihat sangat lemah..apakah kamu sakit?”

Kakek    : “Usia tidak pernah berbohong nak, aku sudah tua dan lemah.”

Bocah   : “Lalu siapa yang mengurusmu? Apa yang biasanya kamu makan?”

Kakek    : “Aku punya teman orang kuat yang sedang berburu ayam hutan untuk aku makan. Aku punya teman orang pintar yang selalu meracikkan obat ketika aku sakit. Aku punya teman yang suaranya bagus dan bernyanyi menghibur ketika aku sedang sedih.”

Bocah   : “Lantas mana semua temanmu sekarang?”

Kakek    : “Mereka sedang berburu, sedang mencari tanaman obat, sedang berdagang di dusun, sedang bekerja. Mereka akan kembali sebelum gelap.”

Bocah   : “Apakah kamu tidak merasa kesepian?”

Kakek    : “Tidak, karena meskipun kami berpisah di siang hari, aku tahu mereka akan kembali. Kami akan berkumpul untuk makan ayam hutan dan akan bernyanyi bersama setelahnya.”

Bocah   : “Apa yang kamu berikan pada mereka sehingga mereka mau berteman denganmu? Maukah kamu menjadi temanku? Aku akan meminta ayahku memberikan uang yang banyak kepadamu!”

Kakek    : “hehehe…kamu tidak perlu memberiku apapun, perbincangan kita sudah membuatku menganggapmu teman. Cukup dengan menganggapku ada, maka kamu adalah temanku.”

Bocah   : “Tapi kamu bisa menjadi kaya jika menerima uang dari ayahku.”

Kakek    : “Aku tidak perlu menjadi kaya karena aku sudah berteman denganmu. Berteman itu bukan hanya tentang memberi, lebih dari itu…berteman adalah tentang menerima, menerima kekurangan dan kelemahan diri kita sehingga kita bisa lebih menghargai teman.”

saya bukan orang kuat, tapi saya punya teman orang kuat

saya bukan orang pintar, tapi saya punya teman orang pintar

saya bukan orang kaya, tapi saya punya teman orang kaya

saya bukan siapa-siapa jika saya tidak punya teman


senjang itu niscaya…

kenapa ada orang miskin padahal sebagian besar manusia di dunia ini tidak ingin miskin?

kenapa masih ada orang yang mengemis-ngemis di depan rumah makan disaat orang-orang lainnya menikmati makan siang dengan lahap?

Seringkali kita bertanya-tanya, apalagi jika melihat kondisi masyarakat di Indonesia saat ini yang semakin jauh saja perbedaannya antar yang miskin dan yang kaya. Tempat parkir mall-mall di kota besar semakin penuh oleh mobil-mobil mewah, banyak sekali dana-dana jutaan dollar-milyaran rupiah yang tertidur di bank-bank asing maupun lokal beratasnamakan warga negara Indonesia, bukit-bukit hijau resapan air disulap menjadi villa-villa bertingkat, tingkat penjualan blackberry sangat tinggi dimana membeli HP sudah seperti membeli ikat rambut yang bisa sebulan sekali ganti.

Di sisi lain, puluhan bahkan ratusan kepala keluarga berteman dengan kereta api karena rumahnya yang bermerek indomie memang dibangun di bantaran rel, anak-anak kecil tidak lagi bisa dengan bangga busungkan dada memakai seragam putih merah karena terlanjur busung lapar, orang-orang tua berdoa agar pemerintah segera membangun jalan layang karena dengan begitu mereka bisa mendapat tempat tinggal gratis daripada rusunawa yang jelas-jelas dari namanya harus disewa.

sangat senjang… dan tidak hanya di Indonesia. Di afrika, china, amerika, eropa, negara maju, negara mundur, negara berkembang, negara menguncup, negara sedang layu, negara tertinggal, negara ditinggal, negara curi-curi start, dimanapun…kesenjangan itu pasti ada. buktinya pengelompokkan negara-negara yang saya sebut di atas juga merupakan sebuah bentuk kesenjangan, ya kan?

pertanyaan awal di atas bukan tanpa jawaban. jawaban yang paling dasar adalah karena itu sunatullah. “Allah memberi sebagian hamba-Nya dengan kekayaan yang banyak dan tidak kepada sebagian yang lain agar saling memberi manfaat satu sama lain”, begitu kata seorang ustadz di suatu majelis. dan tugas manusia selanjutnya adalah untuk berusaha mengurangi kesenjangan itu dengan saling berbagi dan memberi manfaat. mungkin terkesan bertentangan, tapi begitulah adanya. seperti tugas kita untuk bertaqwa kepada Allah dan ada syetan yang akan senantiasa menyesatkan manusia, mungkin seperti itulah kesenjangan yang pasti ada tapi senantiasa kita harus berusaha untuk melawannya.

menurut saya, negara-negara sosialis yang menerapkan kesetaraan saja tidak mampu untuk tidak hancur, karena banyak rakyatnya yang merasa diperlakukan tidak adil. pengakuan terhadap hak milik pribadi tidak berlaku di sana sehingga tidak ada bedanya antara orang yang berusaha lebih dengan seorang pemalas…kesetaraan yang padahal tidak. kalau semua orang setara…siapa mau mengerjakan pekerjaan kasar? siapa juga yang mau jadi bos tanggung jawab besar tapi gaji kecil karena disetarakan dengan gaji pekerja kasar? hehehhe…analisis yang dangkal ya? Biarlah karena memang masih dangkal pengetahuan saya.

lantas bagaimana dengan ekonomi liberal? secara teoritis, ekonomi liberal memberikan kesempatan yang sama bagi setiap manusia sesuai dengan kemampuannya (CMIIW, karena saya sama sekali tidak mengerti tentang perekonomian). ya setara kesempatannya..tapi apakah kemampuan setiap orang itu sama? pastinya tidak! setidaknya itu yang saya rasakan. sehingga menurut saya ekonomi liberal pun hanya membuat kesenjangan ini semakin terasa. si kaya makin kaya dan si miskin entah apalagi sebutannya…(yang tepat di garis batas saja disebut miskin, apalagi yang di bawah garis kemiskinan..ckckckck).

lantas sistem yang seperti apa yang bisa digunakan untuk mengurangi kesenjangan itu? segala sesuatu yang benar datangnya dari Allah yang maha mengetahui, dan Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan dalam bidang apapun.

ditulis saat otak terlalu lelah dan tidak mampu menahan emosi untuk menulis,,