curhat orang tak terdidik..

Sangat senang ketika tahu bahwa masih banyak teman-teman yang sangat peduli dengan pendidikan. Sebagian terpilih mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengajar di IM, sebagian besar lainnya mungkin berkesempatan memberikan kontribusinya dengan wadah yang lain..

Ketika membaca surat Kak Aji untuk adik-adik di Majene perasaan saya bercampur, senang dan khawatir. Senang karena melihat semangat Kak Aji dan Ibu Arum dalam mendidik adik-adik di Majene, senang bisa melihat tulisan surat-surat balasan dari adik-adik murid Bu Arum.

Lalu apa yang dikhawatirkan?

Ketika SD, saya bercita-cita ingin menjadi insinyur, ada teman yang ingin menjadi dokter, ada teman yang ingin jadi presiden. Cita-cita yang sangat mulia bukan? Tentu, karena menurut guru saya dulu, itulah pekerjaan orang-orang pintar. Saya sedikit sedih karena berarti ayah saya bukanlah termasuk orang pintar. Beliau bukanlah insinyur, bukan dokter, apalagi presiden.

Ketika SMP,saya dipuji banyak teman dan guru karena katanya saya pintar, jago matematika. Setiap ujian selalu mendapat nilai yang baik. Padahal sebetulnya saya sedih karena saya tidak bisa bermain gitar dan tidak pandai bermain sepak bola. Saya sangat suka sepak bola tetapi tidak pernah diizinkan untuk masuk sekolah sepak bola karena katanya tidak punya masa depan. Saya juga kasihan melihat teman saya yang selalu dianggap bodoh karena nilai matematikanya selalu buruk. Ya buruk, karena setiap kali pelajaran matematika dia selalu memenuhi buku tulisnya dengan gambar-gambar yang sangat bagus.

Ketika SMA, saya termasuk dalam golongan yang mempersiapkan diri berlomba-lomba untuk bisa masuk ITB atau UI, karena katanya disitulah tempatnya orang-orang pintar bekumpul. Di ITB lah saya harus kuliah jika ingin jadi Insinyur handal, di UI lah saya harus kuliah kalau ingin jadi dokter yang baik. Dan mungkin kalau saya kuliah disana maka saya akan berkesempatan menjadi presiden, seperti Soekarno dan Habibie. Ada satu teman sekelas saya yang ingin melanjutkan sekolahnya ke sekolah keperawatan. Tetapi sebagian besar guru kami menyayangkan keinginannya itu, karena katanya dia bisa jadi lebih daripada sekedar perawat..karena pada dasarnya dia memang pintar. Apakah pekerjaan sebagai dokter itu lebih mulia daripada perawat?

Setelah sekian lama…saya semakin tersadarkan. Bahwa ternyata mimpi saya sangat sempit..dan itu akibat dari pendidikan dasar yang saya dapatkan. Entah apakah ada yang sepikiran dengan saya atau tidak, saya merasa bahwa pendidikan dasar yang saya dapatkan telah memangkas ribuan cabang mimpi yang ada di dunia ini. Saya terperangkap dalam frame berpikir bahwa orang yang pintar dan sukses adalah hanya orang-orang yang berhasil menjadi insinyur, dokter, dan presiden. Terperangkap dalam opini bahwa orang yang pandai adalah yang nilai-nilai pelajaran eksaknya tinggi, sedangkan yang hanya pandai melukis, bermusik, dan menulis adalah kurang pintar. Terperangkap bahwa hanya ITB, UI, dan universitas-universitas besar lainnya lah yang akan membawa saya jadi orang sukses karena didalamnya terdapat orang-orang pintar. Pemikiran bodoh bukan?

Memberikan mimpi besar kepada anak-anak seusia murid SD tentu tidak salah, sangat baik. Tetapi harus berhati-hati agar tidak terperangkap seperti saya.

Itu kekhawatiran saya…saya khawatir ketika pendidikan yang harusnya meluaskan kesempatan dan pemikiran para peserta didik justru malah menyebabkan penyempitan sejak masih dari alam pikir mereka. Pendidikan dasar adalah waktu yang tepat untuk memberikan banyak kesempatan kepada mereka untuk bermimpi, mimpi seluas-luasnya, mimpi yang tidak terikat dengan materi, mimpi yang tidak terikat dengan kesuksesan dunia yang semu, mimpi yang muncul dari hatinya, bukan mimpi yang di plot oleh gurunya untuk ditunaikan suatu hari nanti. Sehingga pada akhirnya, adik-adik kita bisa berkata: saya menemukan apa yang saya inginkan, saya berusaha mengejarnya, saya melakukannya dengan senang hati, dan saya mencintainya.

Berbicara masalah pendidikan dasar memang tidak mudah, apalagi di negara kita dengan segala kekurangannya. Satu pesan saya yang selalu saya sampaikan bagi diri saya sendiri: Jika saya berkesempatan menjadi pendidik, tugas saya sebagai orangtua bukanlah untuk menentukan masa depan anak., tugas saya sebagai guru bukan untuk membuatkan jalur kesuksesan untuk si murid…tetapi tugas saya hanyalah membantu anak dan murid-murid saya untuk menemukan masa depannya dan menentukan jalur kesuksesan menurut pikirannya sendiri.

Soekarno memang hebat dan disegani oleh pemimpin-pemimpin dunia, kita hormat kepada beliau, tetapi bukankah lebih baik ketika mereka adik-adik kita itu lebih hormat kepada orangtuanya dibandingkan kepada Soekarno? Tekun dan rajin belajar bukanlah bertujuan untuk masuk ITB. Tekun dan rajin belajarlah untuk menjadi manusia pembelajar yang berbahagia. Menjadi pemimpin bangsa memang hebat. Tentunya ketika kita telah mampu memimpin diri sendiri..dan itulah peran pendidikan dasar.

Salut kepada IM dan teman-teman yang berjuang di dalamnya, tetap semangat.

Semoga semua itu hanya kekhawatiran saya saja dan tidak benar-benar terjadi.

Semoga suatu saat saya bisa membaca lagi surat dari adik-adik lainnya, tentunya dengan bahasa anak-anak yang penuh kepolosan dan kejujuran. Surat yang ditulis karena mereka memang ingin bersurat.


terpancing…

Ok, kembali tergerak pengen nulis setelah baca blog seorang teman.. Teman yang menulis ini adalah teman saya sewaktu kuliah, teman main, partner tugas akhir, partner curhat, dsb.. Apa yang membuat saya dan dia berteman dekat? Karena pribadi kami berbeda, sangat berbeda, pemikiran kami seringkali bertolak belakang, seringkali berdebat untuk saling mengadu ide, beda prinsip. Kebiasaan saya adalah keanehan buatnya, dan sesuatu yg saya anggap aneh dari dia adalah kesehariannya. Tapi ada 1 hal yang mungkin sama..selera kami terhadap wanita..ga sama sih, tapi mirip. Tapi tetap cara pendekatan kami berbeda 180 derajat. As you can see..hasilnya pun berbeda (ahahahahaha).

Ada 2 poin yang dia soroti di blog nya, dan di 2 poin itu juga lah saya ingin berkomentar. Entah komentarnya ini lagi2 bertolak belakang atau tidak…semoga tidak.

Yang pertama:

Gua sependapat dengan info yang didapat dari Leni (mamahnya geng), bahwa saat ini memang ada yang namanya anggota dewan keamanan PBB. Like it or not and as inconvenient as it is mereka memang mendapat posisi itu didukung oleh peta kekuatan ekonomi mereka di dunia. Seperti organisasi manapun didunia ini, PBB sebagai organisasi membutuhkan biaya operasional untuk misi kemanusiaannya. Ada lebih dari 30 juta orang kelaparan didunia ini dan sistem perekonomian negara2 itu faktanya sampai sekarang masih menyokong supply pangan si FAO ke kantong2 kelaparan. Yes, indeed, their economic system is loosing their stability at the moment but so far their economic still influencing the economic system of half country in the world, yet the emerging economic countries such Brazil, India, even China or Rusia as an individual country, yang terkadang posisinya di dewan keamanan suka dianggap Pro Dunia masih berkembang dan blom bisa take over/ claim bahwa sistem mereka mampu support orang orang kelaparan ini bahkan mereka sendiri kadang jadi objeknya kelaparan.

Komen saya:

Kalau saya pikir, justru sistem ekonomi merekalah (negara2 adidaya) yang sedikit banyak membuat 30 juta orang kelaparan di dunia ini tetap ada. Tetap ada dalam artian; mereka tidak mati serentak akibat kelaparannya karena diberi “infaq” oleh FAO sehingga kadang-kadang masih bisa makan, tetapi mereka juga tidak bisa bangkit dari keterpurukannya. Kenapa? karena sistem ekonomi global bawaan negara2 adidaya itulah yg menutup kesempatan mereka untuk lepas dari kelaparan. Ya, yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap miskin. itu prinsipnya…bentuk kolonialisme modern.

Ilustrasinya…kenapa negara2 di Afrika yang kaya emas dan intan (intan Jar..intan) tetap menjadi negara miskin? Ya, karena emas dan berlian mereka dikuasai oleh negara2 yang mendanai UNESCO itu… Ya biar keliatan agak dermawan dan baik hati..dikasihlah sumbangan2 ala kadarnya buat si miskin yang dicuri emasnya itu. gitu kan sistem ekonominya? dan karena prakteknya mereka-mereka itu trus mereka berhak menjadi dewan keamanan PBB? Jawabannya iya… Dan kita (minimal hati kita) harus tetap menyatakan ketidaksukaan atas itu. Ya ga?

Yang kedua:

Yang kedua adalah kita ngebahas gimana hukum indonesia melihat agama di Indonesia. Gua pribadi berkesimpulan bahwa yang disebut “berketuhanan” yang dijadikan prinsip dan identitas berbangsa di Indonesia (juga tercantum di Pancasila, UUD 45 alenia 4, dan pasal 29 ayat 1) sama artinya dengan memilih konsep ketuhanan antara 5 agama yang diakui oleh negara ( 6 kalo Kong Hu Cu, maaf kalosalah nulis, dianggap agama walaupun menurut gua itu sebenernya merupakan ajaran hidup). Jadi menurut gua di Indonesia ketika kita bicara ketuhanan akan secara otomatis bicara mengenai menganut agama, g ada yang namanya agnostic walaupun pada intinya agnostic masih percaya adanya Tuhan namun tidak mempercayai konsep agama.

Saya tertarik dengan pernyataannya bahwa agama itu berbeda dengan ajaran hidup. Bedanya dimana? Bukankah inti dari agama adalah mengajarkan bagaimana kita menjalani hidup sekarang? Jadi apa yang membedakan? Kitab suci? Rasul? Tempat ibadah? Tuhan?

Terlepas apakah ajaran Konfusius itu adalah agama atau bukan…tapi menurut saya agama adalah ajaran hidup.

Opini Menyoal Sumber Daya Manusia PT.KAI

Saya tergelitik untuk menulis dan sedikit komentar setelah membaca sebuah artikel berita yang menyatakan kekecewaan salah satu anggota DPR terhadap sumber daya manusia PT.KAI terkait kecelakaan kereta api di Pemalang beberapa hari yang lalu. Saya tidak berkomentar masalah kecelakaannya, anggota DPR nya, ataupun kekecewaannya. Terlepas dari itu semua saya ingin menyoal tentang sumber daya manusia PT.KAI.

Beberapa bulan lalu saya sempat melihat-lihat website resmi PT.KAI dan cukup terkejut melihat komposisi sumber daya manusia yang mereka miliki sebagai berikut:

Komposisi Sumberdaya Manusia PT.KAI

“Berikut adalah profil kekuatan Sumber Daya Manusia PT Kereta Api (Persero). Berdasarkan pendidikan masih dominan pada tingkat SD, karena ciri pekerjaan di PT Kereta Api (Persero) sebagian besar memang menghendaki tingkat pendidikan tersebut.”

Jujur saja saya agak miris melihat data dan kalimat di atas. Bagaimanapun PT.KAI adalah sebuah institusi yang memegang peranan penting transportasi di Indonesia (walaupun cuma baru Jawa & sebagian Sumatera), saya kira sudah sepantasnya memiliki pasukan yang lebih baik daripada data di atas. Bagaimana PT.KAI bisa menyelenggarakan angkutan perkeretaapian dengan baik dengan sumber daya yang sangat minim? Misalnya saja 93 (0.36%) pegawai berpendidikan S2, saya kira mereka adalah jajaran komisaris dan direksi di KAI juga anak-anak perusahannya dan juga mungkin Kepala Cabang, Manajer, serta staff ahli atau pengisi jabatan struktural lainnya. Hanya 452 (1.77%) pegawai berpendidikan S1 yang mungkin mengisi peran2 sebagai manajer, kepala operasi, pengawas operasi, staff  teknis, staff kantoran dari mulai urusan kepegawaian, administrasi, keuangan, pengembangan pegawai, dll. Apakah itu cukup? Bumi dan langit rasanya membandingkan PT.KAI dengan Japan Railways yang engineer2nya saja lulusan S2/S3.

Bagaimana dengan mekanik-mekanik? Ya mungkin mereka yang berpendidikan D3 dan SLTA mendominasi bagian tersebut. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang menjadi kepala stasiun yang jumlahnya mecapai kurang lebih 570 stasiun? Lantas kalau saja 1 lokomotif itu dioperasikan oleh 1 masinis sepanjang hari sepanjang tahun, maka minimal harus ada 341 orang masinis karena ada 341 lokomotif yg beroperasi…yang ini dari tingkat pendidikan mana? Memang tingkat pendidikan bukan satu-satunya hal yang menentukan, tapi bagaimanapun itu penting.

Belum lagi jika dilihat dari segi usia, 41% pegawainya berusia > 50 tahun, berarti ga lama lagi pensiun. Sedangkan yang berusia < 30 hanya 11.6%. Bagaimana ke depannya?

Jadi jangan dululah berharap perkeretaapian kita bisa tersebar merata sampai kalimantan atau pulau-pulau lainnya. Karena rasanya dengan pasukan yang ada mempertahankan kondisi saat ini saja sulit.

Selain dari sisi jumlah, tidak kalah pentingnya juga adalah kualitas sumber daya manusianya. Menurut pendapat saya, menjadi pegawai PT.KAI bukanlah hal yang menarik bagi sarjana-sarjana muda sekarang (anggaplah ini pandangan pribadi yang juga disetujui oleh banyak teman saya). Bagaimana tidak, sepertinya PT.KAI bukanlah suatu institusi yang bisa menjanjikan sehingga sarjana-sarjana muda pencari kerja dari perguruan-perguruan tinggi lebih memilih untuk bergabung dengan perusahaan asing, BUMN populer, ataupun perusahaan swasta. Sebagai contoh saja, saya rasa 5 tahun terakhir ini dari ratusan sarjana lulusan ITB T.Sipil mungkin tidak sampai 2 tangan yang dibutuhkan untuk menghitung berapa jumlah yang bekerja di PT.KAI, apalagi teknik mesin mungkin…CMIIW. Kenapa?

Sebagian besar lulusan-lulusan baru adalah orang-orang yang gamang dan masih meraba-raba apa yang akan dilakukan selanjutnya (termasuk saya). Wajar jika yang dilihat oleh sebagian besar lulusan-lulusan baru pencari kerja dari sebuah perusahaan adalah bonafiditas perusahaan, fasilitas yang diberikan, masa depan karir, pengembangan diri…dan itu ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan asing, swasta, ataupun sebagian kecil BUMN yang menganggap pegawai sebagai aset dan investasi sementara sebagian besar kultur BUMN masih menganggap pegawai sebagai beban produksi. Apakah PT.KAI sudah mampu menawarkan itu?

1 tahun lalu saya sempat tertarik untuk mengikuti seleksi penerimaan pegawai PT.KAI sebagai staff teknis dan semacam “management trainee”-nya, tetapi langsung mundur ketika melihat persyaratannya. Persyaratannya adalah IPK>2.5 dan nilai TOEFL>400. Apakah sebegitu rendahnya ekspektasi PT.KAI terhadap calon pegawainya? Memang nilai bukan segalanya, tetapi terlalu merendahkan harga juga tidak baik. Yang terpikir pada waktu itu, pengembangan seperti apa yang akan PT.KAI berikan terhadap pegawai barunya? Apakah tidak sebaiknya syarat2 itu dihilangkan saja? Disaat perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan bibit terbaik dari perguruan tinggi, ini justru seperti tidak berniat. Sehingga lama kelamaan PT.KAI semakin ditinggalkan oleh generasi-generasi berkualitas. Mungkin trend nya sama seperti profesi PNS guru yang semakin dipandang sebelah mata oleh sebagian besar anak muda sekarang. Siapa yang ingin jadi guru? Yang perannya besar, tanggung jawabnya berat, tapi pendapatannya minim dan sampai pensiun tetap menjadi guru? Sehingga alasan yang paling masuk akal untuk memustuskan menjadi guru adalah ibadah. Niat menjadi pegawai PT.KAI adalah ibadah.

Berbicara masalah guru, saya sedikit menyinggung tentang program Indonesia Mengajar. Program tersebut mampu menarik minat ribuan anak muda untuk menjadi guru. Penggagas program ini mampu memberikan motivasi, pencitraan, penularan semangat, penguatan idealisme bagi ribuan calon pengajar muda. Saya rasa penggagas tidak memotivasi dengan materi karena toh untuk menjadi guru di program ini pada awalnya tidak diiming-imingi gaji dan fasilitas. Tapi program ini menawarkan pride, kesempatan untuk berkontribusi. Memang hanya 1 tahun dan itupun belum berjalan, bisa kita lihat nanti hasilnya berapa banyak dari para pengajar muda ini yang tetap bertahan menjadi guru atau menyumbangkan dirinya tetap berkontribusi di dunia pendidikan setelah 1 tahun.

Apakah PT.KAI bisa menawarkan kesempatan seperti itu?

Bagaimanapun hal-hal yang saya sebut di atas itu cukup menentukan. Bisa dilihat bedanya bagaimana perbedaan PT.KAI dan PT.Jakarta MRT dalam hal perekrutan tersebut..seperti guru PNS vs Indonesia Mengajar.

Apakah ini tanggung jawab PT.KAI sepenuhnya? Saya rasa tidak. Seperti yang dikatakan teman saya, bagaimanapun PT.KAI tidak akan berkembang selama kebijakan transportasi nasional cenderung menganaktirikan perkeretaapian. Ya, keberpihakan kebijakan pemerintah juga menentukan. Mungkin PT.KAI tidak berambisi untuk merekrut sarjana-sarjana muda potensial karena tahu diri tidak bisa menjanjikan apa-apa, atau mungkin tidak ada dananya, bisa banyak hal. Dan kepada sarjana-sarjana muda…sudah siapkah beribadah?? hehehe…

referensi:

http://www.kereta-api.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=9&Itemid=12

http://www.datacon.co.id/Infrastruktur-2010KeretaApi.html

-Rangga A. Sudisman-

bukan pemerhati perkeretaapian

bukan orang yang mengerti PT.KAI

hanya beropini dengan tulisan tidak terstruktur

pura-pura ngerti ekonomi

Essay ini saya tulis beberapa waktu yang lalu, tapi ga di publish kemanapun karena ga PD, hehe. Pertama karena saya nulis sesuatu yang saya ga ngerti tapi pura-pura ngerti, yang kedua karena sok-sok an pake bahasa Inggris. Tapi akhirnya saya post juga disini. Ya namanya juga menyatakan ide, siapa tau da yg kasih saran dan kritik..oke, ini tulisannya:

Anticipating the Negative Effects of ACFTA by Increasing Industrial Competitiveness

I. Introduction

Since it was launched on the 1st of January 2010, ASEAN – China Free Trade Agreement (ACFTA) is the world’s biggest regional free trade agreement, measured by population (Coates 2009; Brown 2010; Walker 2010). ACFTA is incorporating China and the six founding members of ASEAN; Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Philippines, and Brunei. Four other ASEAN countries will follow in 2015. ACFTA creates an economic region with almost 1.9 billion consumers, a combined regional Gross Domestic Product (GDP) of about US$6 trillion (Brown 2010), and a total trade estimated at US$1.23 trillion per year (Cordenillo 2005). ASEAN, which has a population of 580 million and a combined economy bigger than that of India, has substantial reserves of resources such as oil, natural gas, coal, and other commodities that China desperately needs to keep its factories operating. China, which runs a substantial trade surplus with ASEAN, stands to benefit hugely from easier access to sells their products (Brown 2010). They began the industrialization in the 1960s and continue to increasing until now which has made them one of the world’s economic powers. China’s GDP has increased at an average annual rate of nearly 10% (Morrison, 1998). China has overtaken the United States of America to become the 3rd largest trading partner of ASEAN after Japan and the European Union (Moore 2009). Based on that enormous economic potential, many sides expect this agreement will expand ASEAN’s trade and increase regional economic growth including Indonesia. But it also raises concerns among Indonesian Industries. ACFTA will have negative impacts on the Indonesian industrial sector if its competitiveness is not improved.

II. Negative Effects of ACFTA on Indonesian Industrial Sector

One of the negative effects that will arise after the enforcement of ACFTA is Chinese domination of the Indonesian domestic market. China could dominate the market with their low price products. Indonesia with more than 200 million of people is a potential market for Chinese products. For certain products, Chinese goods have lower price than Indonesian products, even lower than the price of Indonesian raw materials. It happens because production costs in China are very low associated with low wage labors, reverse engineering system, and mass production system on their industries. For example, a local sack for sugar, rice, and fertilizer costs about Rp.1,600 (US$ 1.70) each whereas a Chinese sack costs about Rp.800 each (Coates 2009). Due to its lower price, many Indonesian consumers prefer to consume or to use Chinese products than domestic products. Indonesian consumers may not care about the origin of the products. Consumers generally only see the quality and price. Indonesian Central Statistical Agency (BPS) reported that number of poor people in Indonesia is 14.15% (Anon. 2010). Most Indonesian consumers have low purchasing power, and so it is reasonable for price to be the main consideration when choosing a product. Consumers are not too sensitive to the quality or brand, even the genuineness of the products does not necessary for them. According to those different price conditions and consumers tendency when choosing a product, will be very easy for China with its economic strength to dominate Indonesia which is still growing and have a lot of reliance to foreign countries.

In connection with Chinese products domination in the Indonesian domestic market, Indonesian industries with their products will have to compete against those Chinese products. This could have negative effects on Indonesian industrial sectors, especially on middle-low industries. Up to December 2010 there were at least fourteen industry sectors in Indonesia stated that they have not ready yet to facing ACFTA such as; textile, rubber, steel, cocoa processing, electronics, automobile, footwear, and cosmetics (Coates 2009; Santoso 2009). If those industrial sectors do not prepare themselves to face ACFTA, they will fail to compete with Chinese products. Failure to compete may be a market decline. The tendency of Indonesian consumers to take the price as the main consideration when choosing a product would cause a decline in domestic product consumption. For example, the Indonesian Footwear Association stated that Chinese firms would take their share of the Indonesian market from 40 percent to 60 percent (Coates 2009; Moore 2009). Similar condition could also occur to the other industrial sectors. If that market decline condition persists, the Indonesian industrial sector could suffer a great deficit.

In addition, decreasing number of consumers in the industrial sector should be equal to benefits lose. Example of actual deficit can be seen in the garment industry sector. Due to the implementation of FTA processes which began in 2004, the textile and garment industries began to encounter a deficit in 2006 and continue to deteriorate each year. In 2006 the textile industry experienced a 107 million US dollar deficit, the year 2007 reached 186 million US dollars, the year 2008 reached 859 million US dollars, in 2009 reached 895 US dollars, and in 2010 the deficit is expected to reach 1.2 billion US dollars (Anon. 2009). Thereafter, they might be unable to cover the production cost and use capital reserves to maintain their activity and some industrial sectors might be collapse if they continuously unable to obtain profit.

Another adverse effect that may occur is the increasing number of unemployment. Millions of workers in the formal sector will lose their jobs as many manufacturing companies are expected to be unable to compete with Chinese products that will flood the Indonesian market. Termination of employees is a common ways to reduce the production cost of an industry. Estimated number of new unemployment could reach 40,000 people from the textile industry sector (Coates 2009), and it could be millions new unemployment in total (Anon. 2010). If those conditions really consist, Indonesia will face the complicated social and economic problems such as increasing poverty and crime.

III. Anticipative Actions

In order to anticipate the negative effects of ACFTA implementations on Indonesian industrial sectors, one of the solutions is to enhance industrial competitiveness. Enhancing industrial competitiveness can be approached by intensifying the technology, improving the management system, and conducting market expansion. Applying appropriate technology on industries could improve productivity, quality, and also reduce production costs. For example, application of semi-mechanical extraction method of handling Sago flour to produced dried starch in Kendari has increased the productivity by up to 50% (Samad 2002). Technology requires substantial capital investment at the beginning. Despite that, the benefit will be obtained thereafter. Subsequently, improving the management system could improve effectiveness and efficiency of production process which related with productivity and quality of industrial products. If the domestic industries have been able to apply appropriate technology and improve its management system, so they are not only able to compete with China but are also likely to be able to expand into overseas market. Moreover, implementation of Free Trade Agreement also means greater opportunities for Indonesian industry to develop its market overseas, so it could change the domestic market share which taken by China.

However, it would be very difficult for Indonesian domestic industrial sector if they have to compete with Chinese industry without government support. Government should protect domestic industry with its policies (Judarwanto 2010). First is to impose Standar Nasional Indonesia (SNI) for all industrial products both locally and imported. SNI will be a filter for imported products, so that only products that satisfy the standard quality are allowed to enter Indonesia. On the other hand, the SNI will force domestic industries to improve their products quality. The next is the ease of financing for domestic industries especially middle-low industries. Ease of financing can be a long-term equity loan with low rates interest rates. Hence, domestic industries will be able to intensify technology, improve the system management, and expand their market with that additional equity. In addition, government should also be able to eradicate smuggling. The entry of products which smuggled illegally could also threaten domestic industries. Very clear that government has a vital position to save and protect domestic industries to face global competition.

IV. Conclusion

In the end, global competition is something that must be faced especially since the Free Trade Agreement was signed. All the countries should take advantages of the implementation of ACFTA. Indonesian industries must improve their competitiveness in order to counter possible negative effects resulting from the implementation of ACFTA. Cooperation between domestic industries and government is one of the best ways to make domestic industries have high competitiveness. In the short term there will be some adjustment that some countries have to make. Still, the advantages will be achieved in the next few years (Coates 2009).

senjang itu niscaya…

kenapa ada orang miskin padahal sebagian besar manusia di dunia ini tidak ingin miskin?

kenapa masih ada orang yang mengemis-ngemis di depan rumah makan disaat orang-orang lainnya menikmati makan siang dengan lahap?

Seringkali kita bertanya-tanya, apalagi jika melihat kondisi masyarakat di Indonesia saat ini yang semakin jauh saja perbedaannya antar yang miskin dan yang kaya. Tempat parkir mall-mall di kota besar semakin penuh oleh mobil-mobil mewah, banyak sekali dana-dana jutaan dollar-milyaran rupiah yang tertidur di bank-bank asing maupun lokal beratasnamakan warga negara Indonesia, bukit-bukit hijau resapan air disulap menjadi villa-villa bertingkat, tingkat penjualan blackberry sangat tinggi dimana membeli HP sudah seperti membeli ikat rambut yang bisa sebulan sekali ganti.

Di sisi lain, puluhan bahkan ratusan kepala keluarga berteman dengan kereta api karena rumahnya yang bermerek indomie memang dibangun di bantaran rel, anak-anak kecil tidak lagi bisa dengan bangga busungkan dada memakai seragam putih merah karena terlanjur busung lapar, orang-orang tua berdoa agar pemerintah segera membangun jalan layang karena dengan begitu mereka bisa mendapat tempat tinggal gratis daripada rusunawa yang jelas-jelas dari namanya harus disewa.

sangat senjang… dan tidak hanya di Indonesia. Di afrika, china, amerika, eropa, negara maju, negara mundur, negara berkembang, negara menguncup, negara sedang layu, negara tertinggal, negara ditinggal, negara curi-curi start, dimanapun…kesenjangan itu pasti ada. buktinya pengelompokkan negara-negara yang saya sebut di atas juga merupakan sebuah bentuk kesenjangan, ya kan?

pertanyaan awal di atas bukan tanpa jawaban. jawaban yang paling dasar adalah karena itu sunatullah. “Allah memberi sebagian hamba-Nya dengan kekayaan yang banyak dan tidak kepada sebagian yang lain agar saling memberi manfaat satu sama lain”, begitu kata seorang ustadz di suatu majelis. dan tugas manusia selanjutnya adalah untuk berusaha mengurangi kesenjangan itu dengan saling berbagi dan memberi manfaat. mungkin terkesan bertentangan, tapi begitulah adanya. seperti tugas kita untuk bertaqwa kepada Allah dan ada syetan yang akan senantiasa menyesatkan manusia, mungkin seperti itulah kesenjangan yang pasti ada tapi senantiasa kita harus berusaha untuk melawannya.

menurut saya, negara-negara sosialis yang menerapkan kesetaraan saja tidak mampu untuk tidak hancur, karena banyak rakyatnya yang merasa diperlakukan tidak adil. pengakuan terhadap hak milik pribadi tidak berlaku di sana sehingga tidak ada bedanya antara orang yang berusaha lebih dengan seorang pemalas…kesetaraan yang padahal tidak. kalau semua orang setara…siapa mau mengerjakan pekerjaan kasar? siapa juga yang mau jadi bos tanggung jawab besar tapi gaji kecil karena disetarakan dengan gaji pekerja kasar? hehehhe…analisis yang dangkal ya? Biarlah karena memang masih dangkal pengetahuan saya.

lantas bagaimana dengan ekonomi liberal? secara teoritis, ekonomi liberal memberikan kesempatan yang sama bagi setiap manusia sesuai dengan kemampuannya (CMIIW, karena saya sama sekali tidak mengerti tentang perekonomian). ya setara kesempatannya..tapi apakah kemampuan setiap orang itu sama? pastinya tidak! setidaknya itu yang saya rasakan. sehingga menurut saya ekonomi liberal pun hanya membuat kesenjangan ini semakin terasa. si kaya makin kaya dan si miskin entah apalagi sebutannya…(yang tepat di garis batas saja disebut miskin, apalagi yang di bawah garis kemiskinan..ckckckck).

lantas sistem yang seperti apa yang bisa digunakan untuk mengurangi kesenjangan itu? segala sesuatu yang benar datangnya dari Allah yang maha mengetahui, dan Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan dalam bidang apapun.

ditulis saat otak terlalu lelah dan tidak mampu menahan emosi untuk menulis,,