liat shunsuke

Sekarang saya mau dongeng dulu ya..

Seminggu yang lalu saya sedang bingung dengan riset saya, ada hal-hal yang bermasalah dan saya tidak tahu pemecahannya. Karena itu saya memberanikan diri untuk mengirimkan laporan dan sedikit curhat tentang masalah itu ke sensei…dengan harapan dia akan memberikan masukan, ide, ataupun koreksi karena siapa tahu memang yang saya lakukan selama ini kurang tepat. Alih-alih, memberikan solusi…sensei hanya mengucapkan terima kasih atas laporannya. Karena yang saya harapkan bukanlah “terima kasih”, saya pun kembali mengirim email. Dan kali ini tidak ada respon sama sekali….kriikk…

Malamnya saya mendapat telepon dari Matsushita-san (mahasiswa doktor-senior saya). Dia bilang kalau sensei memberinya 2 tiket nonton J-League untuk hari sabtu ini…untuk dia dan saya. OK, lupakan riset sejenak, mari menonton J-League!! Mungkin sensei ingin saya untuk tidak terlalu stress dan rehat sejenak (padahal selama ini juga tanpa progress,heu).

Sabtu siang, hujan-hujanan, kami berangkat ke National Stadium. Sampai di stadion kami terkejut..karena tiket yang kami punya adalah golden ticket. Kami sangat dekat dengan lapangan..wooooowwww… bahkan Matsushita pun belum pernah menonton sedekat ini… Lebih menyenangkan lagi karena saya bisa melihat langsung pemain sepak bola Jepang favorit saya; Shunsuke Nakamura.

Senangnya hari itu karena saya bisa merasakan atmosfer J-League, meskipun tim yang bermain adalahKashima Antlers vs  Yokohama F. Marinos, bukan Urawa Reds Diamond yang konon katanya memiliki supporter terbaik di Asia. Tidak sabar juga untuk berada diantara Reds Gang..insya Allah minggu depan,hehe.

Oiya, saya jadi ingat sejarah J-League. J-League ini baru dimulai sekitar awal 90-an. Dan boleh percaya atau tidak,  sebelum menyelenggarakan musim pretama J-League ini, katanya dulu mereka melakukan studi banding ke Indonesia untuk melihat kompetisi di Indonesia…wakwaw.. “Kenapa Indonesia ga juara-juara? Kenapa suporternya masih suka rusuh? Kenapa kesejahteraan pemain masih kurang terperhatikan?”. Tanya kenapa..jangan jawab Nurdin Halid.

Pertandingan selesai, 0-3 untuk kemenangan Yokohama, kami senang, kami pulang, kami kedinginan, kami tersadar…riset belum selesai..kembali termenung.

nomor “3” yang sudah digantung

suatu sore di hari minggu itu warga kota Milan berduyun-duyun mendatangi sebuah arena pertarungan; Stadion Giuseppe Meazza San Siro Milan. 24 Mei 2009, sebuah hari besar bagi pecinta sepakbola kota Milan. bukan derby della Madonina, bukan derby de Italia, bukan final piala Eropa, bukan final Liga Champions, bukan pula pertandingan penentuan juara serie A. sore itu adalah pertandingan resmi terakhir seorang Paolo Maldini di Giuseppe Meazza. Sekitar 70.000 pasang mata menyaksikan langsung laga terakhir Maldini.

kenapa pertandingan terkahir seorang pemain bola itu menjadi begitu penting bagi puluhan bahkan ratusan ribu warga Milan? kenapa laga itu menjadi headline hampir di seluruh dunia? kenapa pula saya merasa begitu penting untuk membuat tulisan ini?

 

 

source: reuters
source: reuters

ketika saya baru lahir, seorang remaja memulai karir profesionalnya sebagai pemain bola. di stadion Friuli kota Udine, seorang remaja bernama Paolo Maldini masuk sebagai pemain pengganti kesebelasan AC Milan. bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini pun, bocah itu sudah berseragam rossoneri.

bertahun-tahun Paolo Maldini menjadi captain bagi AC-Milan dan juga Azzuri Italia, lebih dari 1000 pertandingan sudah dia jalani, juara serie A, juara coppa Italia, juara liga Champions, juara dunia antar klub, juara dunia, entah kurang apalagi prestasinya. pribadi panutan bagi rekan-rekannya, jiwa sosial yang tinggi menjadikan dia seorang duta UNICEF. disaat sepakbola menjadi industri dan bintang-bintangnya bergelimang harta, gaya hidupnya tetap sebagai atlet, tidak terpengaruh iming-iming nilai kontrak dari berbagai klub, dia tetap merah-hitam. disaat pemain-pemain seangkatannya sudah mulai tambun dan pensiun, dial tetap gagah dah bermain…dan tetap merah-hitam. ketika Franco Baresi dan Daniel Massaro memimpin AC-Milan, Maldini sudah merah-hitam. ketika barisan penggedor AC-Milan silih berganti mulai Ruud Gullit & van Basten – George Weah – Roberto Baggio – Oliver Bierhoff – Andriy Shevchenko – Ricardo Kaka, barisan belakang tetap dipimpin Maldini. kecintaan Maldini terhadap sepakbola telah menumbuhkan loyalitasnya terhadap AC-Milan yang telah menjadi keluarganya.

suatu malam, dalam perjalanan Bandung-Jakarta, istirahat di KM-62, mata saya tertuju pada sebuah tayangan TV di sebuah toko swalayan. pertandingan sepakbola AC-Milan vs AS Roma, saya melihat pria itu masih memimpin rekan-rekannya, berjibaku menjaga barisan belakang sambil sesekali membantu penyerangan. gerakannya tidak lagi gesit, responnya tidak secepat dulu, tapi sorot mata semangatnya selalu menyala, wibawanya membuat lawan gentar, sikap sportif & gentle nya membuat dia sangat dihormati kawan & lawannya. usia diatas 40 tahun tentu sudah sangat uzur untuk ukuran pemain bola, tapi dia tetap bermain, dan itu adalah pertandingan resmi terakhirnya di San Siro.

tidak akan ada lagi merah-hitam bernomor punggung 3, seperti halnya nomor 6 milik Baresi. para pendukung AC-Milan kehilangan pahlawannya, para pendukung Internazionale Milan kehilangan rival abadinya. Maldini adalah legenda Milan…