kue natal dan perempuan lajang

1beberapa hari lalu saya mengobrol dengan seorang teman. teman saya menceritakan obrolannya dengan seorang teman lain yang bercerita tentang obrolannya dengan teman lainnya lagi…(wah pusing ya sanad nya..). ya intinya ini cerita dari teman ke teman lah…

cerita ini saya kemas kembali menjadi dengan tokoh fiktif tanpa mengurangi esensi cerita aslinya. Istilah kue natal pun tidak bermaksud mengaitkan cerita ini dengan agama yang merayakan natal sebagai hari rayanya.
Alkisah (ciee..), ada 2 orang wanita lajang yang sedang mengobrol, sebut saja mawar (24) dan melati (38). sampailah obrolan mereka pada topik pernikahan, sesuatu hal yang sama-sama belum pernah mereka jalani. dalam kaitannya dengan pernikahan, melati menganalogikannya (ah…lagi-lagi analogi) sebagai kue natal.

perempuan itu seperti kue natal, pada tanggal 22 Desember kebanyakan kue-kue itu masih dalam proses dan belum matang. Pada tanggal 23 kue-kue itu sudah mulai disajikan dan sangat banyak yang berminat, orang-orang rela mengantri dan bersaing demi untuk mendapatkan kue tersebut. Pada tanggal 24 penjualan sudah mulai menurun tetapi masih cukup tinggi peminatnya karena malam natal belum terlewat. Pada tanggal 25 orang-orang sedang merayakan natal, masing-masing orang sudah memiliki kue natal untuk dinikmati bersama keluarganya sehingga peminat kue natal pun sudah sangat berkurang kecuali bagi orang-orang yang terlambat dan baru sempat membeli karena lupa atau terlalu sibuk. Pada tanggal 26 kue-kue itu sudah mulai tidak enak dan agak terlambat untuk dijajakan, tetapi bagi yang tidak tega untuk membuangnya maka akan lebih baik dimakan sebelum benar-benar tidak enak. Pada tanggal 27 dan seterusnya…kue-kue itu menunggu untuk dibuang.

Hehehehe…meskipun analogi itu konteksnya adalah bercanda, tetapi dengan membaca analogi ini akan banyak wanita yang tersenyum miris…entah mungkin rumasa (kata orang sunda mah), atau bisa jadi dalam rangka menyembunyikan rasa kekhawatirannya.

ada hal yang harus selalu kita yakini selaku umat muslim. mungkin sah-sah saja si melati menganalogikan perempuan lajang dengan kue-kue itu. tetapi apakah bisa kita menganalogikan antara chef si pembuat kue dengan Allah yang menciptakan seluruh alam semesta termasuk kaum hawa? Tentu tidak bisa, dan tidak boleh! sebelum Allah menciptakan dunia ini, seluruh kejadian di alam semesta ini sudah dituliskan, sudah ditentukan, dari mulai rezeki, jodoh, kematian…bahkan lepasnya sehelai daun dari rantingnya. Allah sudah mengatur semuanya itu, kewajiban kita untuk meyakininya dan mengusahakannya. Berbeda dengan si chef, dia berusaha untuk membuat kue berbagai rasa yang lezat dan menggugah selera, tetapi dia tidak pernah benar-benar tahu kapan kuenya akan terjual dan siapa pembelinya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menyandarkan sepenuhnya diri ini hanya kepadaNya. mari tetap optimis…

menyusun kepingan makna untuk mengerti arti hidup

mendefinisikan sesuatu sudah menjadi hobby saya sejak lama. Ya membuat definisi atas apa yang baru saya tahu, mencoba mendefinisikan sesuatu yang masih misteri, mencoba mengurai hal-hal yang masih kusut, mencoba menjawab hal-hal yang menjadi pertanyaan. kalaupun hal-hal yang saya temui tidak bisa didefinisikan, saya akan mencari penjelasannya dengan analogi. tapi ada 1 hal yang sangat-sangat-sangat sulit untuk di definisikan, dan tidak ada pula analogi yang cocok untuk hal itu…hal itu adalah arti hidup dan untuk apa kita hidup?

tidak banyak hal yang bisa saya dapatkan dalam proses mencari makna hidup. hanya kepingan-kepingan kecil tidak bebarturan yang saya dapatkan, kalaupun saya mampu menyusunnya…hal itu tidak akan bermakna karena masih terlalu banyak bagian kosong yang belum ditemukan. apakah selama ini saya mencari di tempat yang salah? apakah  selama ini metode pencarian saya salah? ya saya salah…dan saya memutuskan untuk berhenti mencari untuk sementara.

sampai ketika saya secara tidak sengaja (walaupun tidak ada yg kebetulan karena Allah sudah mengaturnya) menemukan kepingan yang lebih besar di dalam Al-Quran surat An-Naazi’at, surat ke 79 yang terdiri dari 46 ayat. saya beberapa kali berhenti sesaat setelah membaca ayat 1 dan 2 sebelum melanjutkan ke ayat selanjutnya.

Bismillahirrahmanirrohim…

An-Naazi'at

QS 79:1-2

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Ilmu saya masih sangat dangkal untuk memaknai ayat-ayat dan keseluruhan surat tersebut, tapi muncul pertanyaan-pertanyaan setelah itu. malaikat yang mana yang akan mencabut nyawa saya? apakah nyawa saya akan dicabut secara keras atau lemah lembut? tentunya malaikat tidak akan pernah salah cabut.  akan menyakitkankah proses kematian saya? apakah saya masih bisa tersenyum di hembusan nafas terakhir saya?

Ya, kepingan baru yang saya dapatkan…hidup adalah sebuah proses memilih bagaimana cara kita mati. apakah kita meninggalkan dunia dengan khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Allah yang akan menentukan apakah nyawa kita dicabut dengan kasar atau lemah lembut…tetapi kita yang berusaha meminta kepada Allah, kita yang menunjukan pilihan kita melalui hidup kita di dunia. Seperti pesan khutbah jumat yang dikutip seorang kakak. (berhubung ini postingan serius, jadi jangan diketawain yah…seus kok, kakak).

tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya sebagai penulis…

-blog ingatkan saya- (nuhun kang aplo)

omangga cicak ato buaya?

Hari sabtu atau minggu selalu menjadi hari yang saya tunggu (kayanya semua orang ya?) karena hari di hari2 itulah saya bisa berkumpul bersama keluarga, berdiskusi bersama teman, ataupun bersepeda. Tapi yang akan saya ceritakan sekarang adalah edisi bersama keluarga.

Sama seperti sabtu atau minggu sebelumnya, tidak ada yang istimewa di rumah keluarga kami. 7 orang berkumpul di ruangan tengah sambil menonton TV; saya, bapak, ibu, teteh, enda, mbi, dan bije. 2 nama terakhir adalah keponakan saya. Mbi, seorang anak perempuan berumur 3 tahun dan adiknya, bije yang baru berumur 1 tahun. Ini foto-fotonya…

mbi

bije

Hari itu lagi rame2nya (masih sampe sekarang) kasus kriminalisasi KPK di TV. Jadi kami sekeluarga juga nonton itu. Tiba-tiba si Mbi merengek…

Mbi        : “jangan nonton ini, Mbi pengen nonton Barney!!”

Teteh    : “nanti aja nonton Barney nya, ini lagi seru Mbi…”

Mbi        : “sekarang aja…”, sambil gaya anak kecil mau nangis…

Teteh    : “ih tuh liat semuanya pengen nonton ini..Aki, Nin, Bi Enda, Om rangga, semuanya lagi nonton.”

Mbi ngeliat muka kami satu per satu, dan sampe lah dia ngeliat muka saya….

Mbi        : “Omangga cicak ato buaya? Ibu mah cicak da. Yang buaya mah pake seragam ya?”

Wakkksss…semua perhatian terfokus sama Mbi… alih-alih menjawab pertanyaan Mbi saya malah punya pertanyaan baru. Apa selama ini dia memperhatikan juga? Sejauh mana dia tahu tentang ini? Waduh… anak kecil memang punya daya ingat dan adaptasi yang lebih cepat sehingga di usia itu akan banyak informasi dari luar yang akan dia serap dan mungkin akan dia ingat sampai dewasa nanti. Peran orangtua sangat penting sebagai filter atas informasi-informasi yang masuk itu agar yang dia terima adalah hal-hal yang baik. Ya semoga saja anak sekecil itu belum mampu menangkap preseden negatif terhadap polisi seperti yang ditayangkan di TV.

Tapi saya menjadi ingin tahu apa yang terjadi terhadap anak-anak usia SD dan SMP. Sebagian dari mereka pasti juga menonton tayangan-tayangan berita dan pembentukan opini publik di media. Kita saja yang sudah lebih dewasa masih sangat terpengaruh opini publik, apalagi anak-anak yang hanya bisa menangkap tanpa punya filter sendiri. Saya rasa pengawasan orangtua terhadap tayangan-tayangan yang ditonton anak-anaknya menjadi hal yang sangat penting. Bahkan tayangan-tayangan berita pun harus dikelompokkan sebagai tayangan parental advisory, malah kayanya sinetron-sinetron kita juga harusnya x-rated deh…hehe.

Ya semoga saja keponakan-keponakan saya dan anak-anak yang lain bisa tetap berkembang sewajarnya anak-anak yang tidak teracuni oleh media. Sehingga tidak lantas menjadi dewasa sebelum waktunya seperti nikita willy,,,wkwakwkakwakkaw…no offense.

Oiya, sebenernya pengen jawab gini ke Mbi…

“Omangga ga pilih cicak ataupun buaya…omangga pilih ikan aja,ikan yang bisa membawa manfaat bagi setiap kolam yang ditinggali. Ikan yang ga bisa dimakan buaya, ikan yang juga ga makan cicak.”

Tapi ya jelaslah bukan jawaban itu yg keluar…

“Omangga mau pilih dinosaurus aja, biar lucu kaya Barney.. n_n”

sebuah kritikan…

Pernah ada orang yang bilang kalo blog saya tuh ga easy reading, terlalu serius dan “bermuatan” (emangnya electron bermuatan?)…orang itu nyuruh saya menulis dengan tema dan gaya yang lain, biar orang lain bisa melihat sisi lain rga yang santai, ceria, optimis, dsb…

Pendapat dari orang tersebut cukup beralasan. Saya buka lagi blog saya dan saya baca semuanya sekilas. Ternyata emang bener, saya merasa sebagai kritikus tanpa solusi. Tapi menulis ga bisa dipaksakan, apa yang kepikiran itulah yang saya tulis…secara ga langsung berarti memang bukan tema dan gaya tulisan yg harus dirubah…tapi pola pikir.

Terima kasih kritikannya…saya akan tetap menjadi diri saya, dengan otak dan hati yang lebih baik.

berani untuk berani..

terkait dengan postingan saya sebelumnya, sempat terpikir untuk membuat kolam sendiri, kolam yang sesuai dengan potensi dan interest yang saya punya, kolam yang saya urus sendiri sehingga saya bertanggung jawab penuh atas jernih dan keruhnya air di kolam itu. tapi ternyata itu bukanlah suatu hal yang mudah, diperlukan keberanian untuk itu. ya, menjadi seorang entrepreneur.

keberanian bukanlah satu-satunya syarat, diperlukan juga ketekunan, kemampuan, kerja keras dan lainnya. tetapi dari keberanianlah semuanya bermula. menyadur sebuah tulisan yang saya sendiri tidak tahu siapa penulisnya, berikut bentuk-bentuk keberanian seorang entrepreneur:

  1. berani bervisi, bermimpi, dan berkhayal; untuk memulai sesuatu, kita harus tahu apa yang kita tuju…bermimpi itu halal dan gratis.
  2. berani mencoba; mimpi akanlah tetap menjadi mimpi jika tidak dicoba untuk diwujudkan.
  3. berani merantau; membangun kepercayaan diri dan kemandirian.
  4. berani gagal; hanya orang yang berani gagal total yang akan mendapat keberhasilan total (JFK).
  5. berani sukses; seberapa besar sukses yang ingin kta raih = seberapa besar risiko yang berani kita ambil.
  6. berani berbeda; setiap manusia adalah unik, munculkanlah keunikan yang bernilai, jadilah beda mesikpun harus dibayar dengan tertawaan, ejekan, dan kritik orang.

 

keberanian itu muncul dari diri sendiri, dan seringkali lingkungan menjadi pendukung ataupun penghambat munculnya keberanian. jika lingkungan membuat kita menjadi tidak berani, maka tinggalkanlah…cari lingkungan orang-orang pemberani.

saya sendiri sangat mengapresiasi dan merasa kagum dengan teman2 yang berani untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, atau setidaknya bagi dirinya sendiri. itu bukan hal yang “ecek-ecek”. mari kita berani untuk berani!