Restart

Sempat terpikir untuk menghapus blog ini karena saya sudah lama tidak meracau dan beberapa tulisan lama pun sudah tidak relevan dengan kondisi atau pemikiran saya sekarang. Ya bisa dibilang tulisan-tulisan lama itu atah pisan. Tapi setelah dipikir lagi, ya semua orang pernah muda dan berproses. Laman blog ini menunjukkan bagaimana saya berproses selama hampir 1 dekade. Semoga masih ada manfaat yang bisa diambil dari masa lalu.

Masa depan masih bersih, tergantung apa yang kita lakukan saat ini untuk mewarnai hari-hari. Semoga laman ini bisa menjadi manfaat, setidaknya bagi saya sendiri.

Advertisements

jaminan sosial, bom waktu bagi negara maju?

Kemarin malam, si partner menyuguhi saya semangkuk Udon panas + ebi tenpura + coklat panas + dorama baru di internet. Apa yang spesial dari menu itu? Yup, dorama baru! Awalnya saya tidak terlalu suka dengan dorama, tapi berhubung hampir tiap hari menemani si partner nonton dorama dengan alasan belajar bahasa Jepang..jadi ya dinikmati saja. Toh saya rasa lebih baik juga daripada nonton mivo jam segitu; kalau ngga Tina Talisa paling Nikita Willy, ya ngga?

Dorama-nya kali ini tentang seorang laki-laki yang bekerja sebagai assessor di perusahaan asuransi jiwa, tugasnya menginvestigasi kronologis kematian seseorang agar bisa dinilai apakah pewarisnya layak mendapatkan asuransi atau tidak. Ide dari ceritanya cukup sederhana, tapi sarat makna.

Nah berbicara tentang asuransi jiwa, obrolan kami merambat kepada istilah “jaminan sosial”. Di negara-negara maju seperti US, Jepang, dan negara-negara Eropa sistem jaminan sosial sepertinya menjadi elemen penting bagi kehidupan ekonomi warganya. Misalnya di Swiss atau negara-negara skandinavia, pemerintah mereka menetapkan pajak yang besar terhadap warga yang berpenghasilan tetap..katanya bisa sampai 25%. Tapi pemerintahnya menyediakan sekolah gratis, fasilitas kesehatan gratis, transportasi publik yang nyaman, dsb.

Di Jepang juga pajaknya cukup besar, konsekuensinya adalah 70% potongan biaya kesehatan, transportasi publik yang nyaman, fasilitas pendidikan yang baik, dsb. Di Jepang juga setiap warga yang sudah memasuki masa pensiun akan mendapatkan uang pensiun yang cukup besar. Terlepas dia pegawai pemerintah ataupun pegawai swasta. Uang pensiun ini didapat dari memotong gaji angkatan kerja yang masih produktif. Bagaimana dengan asuransi jiwa? Dari info yang didapat di dorama itu, setiap claim asuransi bisa bernilai rata-rata antara 20 juta yen-60 juta yen per kematian (2-6 milyar rupiah). Dan ini untuk orang biasa, bukan pejabat/pengusaha super kaya yang mungkin bisa lebih besar lagi.

Membangun sistem jaminan sosial seperti itu bukanlah hal yang mudah. Jepang membangun sistem ini sudah sejak lama, sejak mereka sangat giat-giatnya membangun, angkatan kerjanya sangat produktif, dan ekonominya melesat. Sepertinya kemapanan sistem jaminan sosial bagi suatu negara itu berbanding lurus dengan kemajuan ekonominya.

Di sisi lain, kemajuan ekonomi juga berimbas kepada perubahan kondisi sosial dan budaya. Tidak bisa dipungkiri bahwa piramida populasi negara-negara maju cenderung berbentuk segitiga terbalik. Angkatan pensiun mereka lebihbesar daripada angkatan kerja dan generasi masa depannya. Ini karena pergeseran budaya, mereka enggan untuk memiliki anak, enggan untuk menikah, kalaupun menikah dan memiliki anak sebaiknya nanti saja setelah agak “dewasa” dan mapan. Hal ini menyebabkan jarak antar generasi menjadi lebih lebar.

Kondisinya sekarang (menurut pengamatan saya yang bisa saja salah):

  1. pemerintah Jepang harus membayar uang pensiun yang sangat besar kepada kakek-nenek yang jumlahnya sangat banyak dan umurnya panjang (karena mereka sehat-sehat).
  2. pemasukan pajak dari angkatan kerja (yang lebih sedikit populasinya ini) cenderung lebih kecil dari biaya jaminan sosial dan uang pensiun
  3. pemerintah harus menutupi biaya tersebut, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak baik

Tentunya negara-negara maju tidak hanya tinggal diam dalam menghadapi masalah tersebut. Mereka berusaha untuk merubah segitiga terbalik itu menjadi belah ketupat yang mungkin ideal. banyak upaya yang dilakukan seperti memberikan encouragement bagi warganya untuk rajin-rajin bereproduksi (tunjangan lebih bagi yang melahirkan & banyak anak), menyerap tenaga kerja dari negara-negara berkembang (tentunya juga tetap dipajaki), menaikan pajak terhadap warganya, dll.

Tapi sampai sekarang usaha itu belum terlalu membuahkan hasil. Sehingga kemungkinan terburuknya (hasil analisis saya yang awam dengan ukuran kepala relatif kecil ini):

  1. kondisi ekonomi semakin melemah (akibat 3 kondisi yang saya tulis di atas)
  2. suatu saat, kakek-nenek ini akan meninggal berbarengan (wallahualam…) sehingga banyak perusahaan asuransi harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus..(mungkin bangkrut ga ya?)
  3. perpindahan uang dalam jumlah sangat besar dari institusi2 keuangan, pemerintah, pasar menuju dompet-dompet pribadi ahli waris..investasi pasar seperti tersedot mendadak
  4. mungkinkah negara-negara maju akan bangkrut? (seperti kecenderungan yang terjadi di Eropa sekarang).

Lantas bagaimana solusinya? Apakah sistem jaminan sosial itu salah dan seperti bom waktu yg suatu saat akan menghancurkan?

Hhhmmm…diluar batas nalar dan kapasitas kepala saya tentunya. Tapi kalau boleh menerawang, saya membayangkan kondisi pada masa nabi Muhammad SAW…indah sepertinya.

Note:

saya agak bingung kalau ditanya kondisi populasi Indonesia seperti apa? segitiga? terbalik? jajar genjang? belah ketupat? hhhmmm…agak sulit menjawabnya, KTP nya belum jadi. :P

Originally posted on 6th October 2011
(Pindahan dari tempat pengungsian sementara: kashikoidangomushi.wordpress.com)
 

tentang makanan..

Tulisan ini tadinya bukan ditujukan untuk diposting di sini…tapi merupakan komentar dan menambahkan pendapat dari postingan tentang makanan punyanya tetangga serumah (naha cenah tetangga tapi serumah?). Tapi berhubung ga bisa komen (mungkin kepanjangan?..gatau kenapa) jadi aja di post disini..

_________________________________________________________________

Nice post euy!!

Numpang nulis yah..maklum lapak saya mah pabalatak dan udah usang,hehehe

Kehati-hatian dalam menjaga diri dari mengkonsumsi makanan haram (baik dari zat maupun cara perolehan) adalah sangat2 penting. Selain tentunya dosa, makanan itu akan menjadi darah kita, sel di tubuh kita, bagian dari tubuh kita…dan mungkin akan berpengaruh pada sifat diri dan keshalehan kita. Banyak sebagian dari kita yang menganggap remeh, atau berlindung di balik “ketidaktahuan” karena beranggapan Allah memaafkan ketidaksengajaan dan ketidaktahuan. Tapi apakah ampunan Allah juga berlaku untuk sikap “bersengaja di dalam ketidaktahuan”? Allah SWT memberikan akal agar kita berusaha melepaskan diri dari ketidaktahuan..itu wajib.

Seringkali, ketika kita tinggal di lingkungan yang mayoritas muslim (di bandung misalnya)..kontrol kita terhadap makanan halal/haram sangat longgar, karena beranggapan semua daging (sapi/ayam/kambing) yg ada di pasaran pasti halal. Jarang kan kita ngecek/nanya tukang bakso di gerobak2/warung2 ttg kehalalannya? Jarang kan ketika kita masuk café/resto trus pesen steak dan ditanya kehalalannya? Apalagi kalo pesennya daging impor mah…hehehe..

Justru ketika tinggal di negara yang mayoritas katholik dan bahkan negara yg ga beragamalah yang “mengguncang kesadaran” kita (silet bgt bahasana). Sebelumnya mana nyangka kalo coffecream powder, saus tomat, roti tawar, kentang goreng, dll yang sekilas kita pikir itu cuma kopi, susu, tomat, terigu, dan bahan2 yg sepertinya halal itu statusnya bisa haram? Hehe… kita punya akal buat ngecek.

Banyak sebagian dari kita yg berpendapat: “ga usah ngecek segitunya kali..klo yg gitu aja haram trus kita makan apa? Kalo terpaksa kan jg gpp, Allah maha pengampun.”

Untuk hal seperti itu, kita juga harus mampu membedakan antara “keterpaksaan” dengan “excuse” atau bahasa Indah mah “ketidakmampuan melawan nafsu” (suka bgt nih bahasanya). Jangan2 selama ini ternyata kita banyakan excuse nya.. ya ga? Padahal di Q.S Al-Maidah (3) di atas Allah dah menjamin untuk mencukupkan nikmat-Nya bagi kita,,jadi rasanya malu kalo kita membuat excuse untuk memakan makanan yg syubhat/haram disaat makanan halal masih pabalatak di mana2..hehe.

Terkait negara ahli kitab tea..setuju..sama saya juga ga terlalu paham apakah Nasrani/Yahudi sekarang itu masih bisa disebut ahli kitab. Tapi kalaupun mereka ahli kitab, apakah sudah pasti daging2 dari negara mereka itu dijamin kehalalannya? Sangat diragukan..Misalnya Australia, USA, negara2 eropa. Bukannya justru negara2 barat itu menganggap penyembelihan hewan itu tidak berprikehewanan?

Hukum dasar bagi semua yang ada di dunia ini adalah halal, kecuali yang jelas diharamkan (berkebalikan dengan hukum ibadah).  Dan jumlah yang diharamkan itu jauuuuhhh lebih sedikit dari yg tidak. Jadi insya Allah seharusnya tidak menyulitkan untuk menjaga diri dari memakan makanan halal. Mari tinggalkan keraguan dengan meninggalkan yang syubhat, semoga Allah menjaga kita dari memakan makanan haram..amiin..hehehe.

Wallahualam..

Hahaha panjang pisan… 😀

pride of urawa

Urawa adalah nama sebuah distrik di kota Saitama, prefektur Saitama. Distrik di Jepang itu mungkin seperti kecamatan kalau di Indonesia, tapi secara luasan agak lebih besar mungkin ya. Distrik-distrik terkenal di Jepang diantaranya; Shinjuku, Shibuya, Harajuku yang kesemuanya ada di Tokyo. Lantas apa yang menarik dari distrik Urawa ini? Kalau ditanya, apa yang terkenal dari daerah ini? Jawabannya rasanya hampir pasti: Urawa Red Diamonds. Tidak percaya? Silahkan googling atau cari di youtube dengan keyword “URAWA”.

Singkat kata, Urawa Reds adalah salah satu klub sepakbola tersukses di Jepang. Bisa dibilang salah satu yang tersukses karena Urawa Reds pernah menjadi juara domestik, pernah menjadi juara antar-klub se-Asia, selalu melahirkan pemain-pemain berbakat yang selanjutnya memperkuat tim nasional Jepang. Kalau ada pembaca yang suka mengikuti persepakbolaan Jepang pasti pernah mendengar nama-nama berikut; Tulio Tanaka, Shinji Ono, Naohiro Takahara, Yukii Abe, dan Makoto Hasebe yang sekarang menjadi captain Jepang. Sebagian dari mereka adalah pemain-pemain yang merumput di Eropa setelah “lulus” dari Urawa. Tapi itu belum seberapa, karena yang terbaik dari Urawa Reds adalah supporter-nya. Boleh setuju atau tidak, supporter Urawa Reds adalah pendukung sepakbola terbaik di Asia.

Video-video ini bisa mendukung statement di atas:

Nyanyian-nyanyian mereka semuanya bersifat dukungan terhadap tim-nya. Tidak ada teriakan “wasit goblog” ataupun nyanyian-nyanyian celaan terhadap pendukung tim lawan, apalagi yang berbau SARA.

Tidak hanya di kandangnya di Saitama Stadium 2002, mereka-pun melakukannya di kandang lawan bahkan sampai ke Australia;

Hari Selasa, 3 Mei 2011 lalu akhirnya saya berkesempatan untuk merasakan atmosfer seperti video di atas. Saya menonton langsung bagaimana mereka mendukung tim kesayangannya. Sore itu adalah pertandingan antara Urawa Red Diamonds vs Yokohama F. Marinos di Saitama Stadium 2002. Meskipun pada akhirnya Urawa kalah 0-2, tetapi saya cukup senang dengan menonton langsung

This slideshow requires JavaScript.

Urawa Red Boys, they have spirit, the have pride, they deserve to be respected.

Oya..saya pikirViking, Bobotoh, The-Jak, Aremania, Bonek, dan kelompok supporter lain di Indonesia juga berpotensi untuk menjadi supporter sepakbola terbaik…jika memiliki etika yang lebih baik.

liat shunsuke

Sekarang saya mau dongeng dulu ya..

Seminggu yang lalu saya sedang bingung dengan riset saya, ada hal-hal yang bermasalah dan saya tidak tahu pemecahannya. Karena itu saya memberanikan diri untuk mengirimkan laporan dan sedikit curhat tentang masalah itu ke sensei…dengan harapan dia akan memberikan masukan, ide, ataupun koreksi karena siapa tahu memang yang saya lakukan selama ini kurang tepat. Alih-alih, memberikan solusi…sensei hanya mengucapkan terima kasih atas laporannya. Karena yang saya harapkan bukanlah “terima kasih”, saya pun kembali mengirim email. Dan kali ini tidak ada respon sama sekali….kriikk…

Malamnya saya mendapat telepon dari Matsushita-san (mahasiswa doktor-senior saya). Dia bilang kalau sensei memberinya 2 tiket nonton J-League untuk hari sabtu ini…untuk dia dan saya. OK, lupakan riset sejenak, mari menonton J-League!! Mungkin sensei ingin saya untuk tidak terlalu stress dan rehat sejenak (padahal selama ini juga tanpa progress,heu).

Sabtu siang, hujan-hujanan, kami berangkat ke National Stadium. Sampai di stadion kami terkejut..karena tiket yang kami punya adalah golden ticket. Kami sangat dekat dengan lapangan..wooooowwww… bahkan Matsushita pun belum pernah menonton sedekat ini… Lebih menyenangkan lagi karena saya bisa melihat langsung pemain sepak bola Jepang favorit saya; Shunsuke Nakamura.

Senangnya hari itu karena saya bisa merasakan atmosfer J-League, meskipun tim yang bermain adalahKashima Antlers vs  Yokohama F. Marinos, bukan Urawa Reds Diamond yang konon katanya memiliki supporter terbaik di Asia. Tidak sabar juga untuk berada diantara Reds Gang..insya Allah minggu depan,hehe.

Oiya, saya jadi ingat sejarah J-League. J-League ini baru dimulai sekitar awal 90-an. Dan boleh percaya atau tidak,  sebelum menyelenggarakan musim pretama J-League ini, katanya dulu mereka melakukan studi banding ke Indonesia untuk melihat kompetisi di Indonesia…wakwaw.. “Kenapa Indonesia ga juara-juara? Kenapa suporternya masih suka rusuh? Kenapa kesejahteraan pemain masih kurang terperhatikan?”. Tanya kenapa..jangan jawab Nurdin Halid.

Pertandingan selesai, 0-3 untuk kemenangan Yokohama, kami senang, kami pulang, kami kedinginan, kami tersadar…riset belum selesai..kembali termenung.